22 Januari

Bukan tentang lagunya Iwan Fals, 22 Januari diperingati sebagai Hari Pejalan Kaki. Ternyata ini tahun kedua belas sejak ditetapkan lho.



Inget nggak peristiwa tragis di Tugu Tani, sebuah mobil nyelonong ke trotoar dan menghantam pejalan kaki. Sembilan korban tewas, 12 luka-luka, bukan angka yang sedikit untuk sebuah keteledoran yang dihasilkan. Apalagi, mereka ada di jalan yang benar.

Sudah dua belas tahun, faktanya keselamatan pejalan kaki masih jauh dari ideal. Anjuran jalan kaki rasanya cuma ada di konten-konten dengan iming-iming membakar kalori dan sehat. Silakan labeli orang Indonesia paling malas jalan kaki, lha wong trotoarnya aja diserobot. 


Sebagai pejalan kaki saya kerap harus berjibaku dengan para perampas hak saya: pedagang kaki lima, pemotor yang memandang trotoar sebagai short cut menghindari macet, bahkan lahan parkir bagi kendaraan tak terkecuali mobil. 

Masih panjang perjalanan memuliakan pejalan kaki di negeri ini. Mungkin karena dianggap “kere” dan kasta rendah?


Kemarin, saya melayangkan protes ke sejumlah caleg yang menggunakan trotoar sebagai area pajang alat peraga kampanye mereka. Hanya satu yang sigap merespon dan mencopot, bahkan wanti-wanti jika ada kasus serupa jangan sungkan menghubunginya. 





Sementara, yang lain abai saja, kalaupun merespon tak jelas apakah ada tindak lanjut atau sekadar basa-basi biar dibilang peduli.


Hari ke-22 rangkaian 30 hari bercerita

Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: