30 Hari Bercerita, Hari Pertama

 Hai 2026...

Aku memutuskan untuk kembali meramaikan Instagram dengan ikutan tantangan 30 Hari Bercerita. Meski ada risikonya: engagement rendah. Entah kenapa... 

Ini cerita hari pertamaku


Hujan dan balutan hawa dingin yang memeluk pagi terakhir 2025 seperti mencegah saya bangkit menjalankan misi bergerak mengolah tubuh. Nyaris saja, tenggelam dalam pesona ranjang yang sejuk. 

Dan, tiba-tiba sepotong kalimat menyapa di pesan singkat. Sangat singkat “bangun bangun”

Tanpa emosi, namanya juga teks. Semua tergantung interpretasi. Tapi, seketika berhasil menggerakkan anggota tubuh melawan malas. Cekatan tangan meraih pakaian olahraga untuk kemudian dipasangkan pada badan. Disusul perlengkapan penunjang: tas pinggang, botol minum, topi, arloji cerdas, sepatu, dan kunci. Dalam hitungan menit tiba-tiba seperti ingin berteriak lembut “I am ready 🙌🏼”

Dan di menit berikutnya tiba-tiba lagi saya sudah berada di area kampus tempat banyak manusia menyegarkan raga. Seperti dugaan, banyak yang berpikiran sama: mengakhiri 2025 dengan olah tubuh. Biasanya ditandai dengan angka capaian kilometer atau durasi. Saya memilih berjalan kaki sambil berbagi camilan untuk kucing-kucing tanpa rumah di sekitar kampus.

Kalo diingat-ingat lucu juga. Belasan tahun lalu, entah sudah berapa kali paksaan berlari dari lingkaran pertemanan. Si ogah-dipaksa ini tentu saja menolak keras dengan alasan nggak kuat. Faktanya memang begitu. Sejak dikenalkan pada mata pelajaran penjaskes di sekolah dasar sampai menengah atas, ini satu-satunya bidang studi yang saya akui lemah. Pernah disalahkan sebagai penyebab kegagalan tim kasti SD meraih kemenangan karena... lari macam keong sehingga kena sasaran bola lawan.

Di kampus, sebagai mahasiswi cungkring saya pernah "diceburkan" sebagai delegasi untuk lomba lari pendek. Harapannya, karena ringan saya akan membawa kemenangan. Nyatanya, saya kembali ada di urutan paling buncit. Peran saya kemudian digantikan oleh teman yang lebih gempal dan surprisingly berhasil menyabet gelar juara.

Inilah yang kemudian jadi excuse ketika diajak lari-lari... hahaha

Kadang saya berpikir, apa komentar teman-teman yang kemarin tertolak ajakannya itu kalau melihat postingan saya tentang "lelarian' (yang sebetulnya lebih tepat jalan cepat). 

Begitulah, support system memang sesederhana itu. Tanpa rangkaian ala pemotivasi yang bagi telinga saya terdengar seperti nasi basi. Atau ceramah panjang pemengaruh kesehatan (yang ujung-ujungnya justru jualan).

Tak cukup kemarin, hari ini pun kaki-kaki ringkih ini kembali diayunkan di area yang sama 👣


Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

1 comments:

Mohammad Sani Suprayogi said...

Eh, ternyata ada challenge 30 hari bercerita? Menarik, saya juga sedang berusaha menulis 365 cerita. Gas!