30 Hari Bercerita: Hari Kedelapan

 Comfort food kamu apa?

Pertanyaan sederhana, tapi kalau direnungkan bisa membuat orang yang dalam keadaan depresi berat bisa berpikir normal kembali. Setidaknya inilah yang terjadi pada Ale dalam novel mega best seller Seporsi Mi Ayam Sebelum Mati.

Dunia, khususnya plus enam dua, memang tidak ramah pada si burik rupa. Apalagi, jadi medioker jauh dari istimewa dan sering diabaikan. Ada, tapi seperti tiada. Begitulah kehidupan Ale, si aku dalam novel karya Brian Khrisna ini 😶‍🌫️

Tiga puluh tujuh tahun hidup sebagai the invisible guy membawa Ale pada satu keputusan untuk mengakhiri hidup, tapi sebelum mati ia ingin sekali menikmati mi ayam langganan yang jadi comfort food-nya. Bukan mi ayam sembarangan tapi yang diracik Pak Jo. Siapa sangka, keinginan inj justru membawanya pada perjalanan panjang yang membuka mata dan menyadari bahwa dunia itu sangat luas.



Bagian yang saya kutip di ini, adalah favorit. Kita seringkali mendadak ngustaz/ah ketika ada teman yang mengeluh mau mati: lu kurang bersyukur 🫵🏻


Pernahkah kita menjadi teman cerita yang baik, yang nggak menghakimi apalagi menjejalkan ayat-ayat suci (backsound Madonna-Papa Don’t Preach). 


Adakah kita menghargai keberadaan manusia yang kita sebut teman dengan mengajaknya ngobrol sesekali, membukakan selubung pembungkus percaya diri mereka yang kelihatannya bukan siapa-siapa?

Dari dua novel yang ditulis Brian yang sudah saya tamatkan, kembali diingatkan bahwa hidup nggak cuma dua sisi hitam-putih tapi kaya warna. Klise memang, tapi lagi-lagi itulah kenyataan.


Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: