30 Hari Bercerita, Hari Kedua dan Ketiga



Hari Kedua: Pelajaran Berharga

Dari 2025 kita belajar..

A friend in need is a friend indeed, quote yang saya dapat dari majalah milik kakak sewaktu ku kecil dan terobsesi bisa berbahasa Inggris (masa itu SD belum diajarkan bahasa asing). Tapi, ini bukan tentang belajar bahasa…

Ketiadaan dan jauh dari kecukupan ternyata juga menjadi filter otomatis teman yang beneran atau sekadar senang-senang. Beberapa yang awalnya akrab, kerap mengajak pelesir pelan-pelan menarik diri. Bahkan merespon pesan singkat pun enggan 🥲

Barangkali sungkan menolak kalau tiba-tiba diajukan pinjaman? Atau merasa memberatkan setiap ngajak jalan karena pasti ada rupiah yang dihabiskan 🤔 

Padahal dukungan bisa disampaikan dalam bentuk obrolan ringan, jika tak hendak memberi pemecahan masalah atau tak sudi menampung keluhan, bahasan populer tentang idola juga cukup jadi pemecah kebekuan.

Nggak apa. Sebab seperti air tak seluruhnya bersih dan layak dikonsumsi tubuh, kita juga butuh penyaring untuk mengetahui mana yang benar-benar baik untuk kesehatan 😇

Hari Ketiga: Teman Jalan

Jumat siang. Saat sedang ketat-ketatnya mengatur anggaran, datang ajakan jalan tapi aku tau betapa nggak enaknya ditolak. People pleaser you may call me, tapi sulit untuk membayangkan sedihnya ditinggalkan 🥺

Tanpa ragu aku menjawab “Di mana jam berapa”
Entahlah, sepertinya dia punya semacam indera keenam.

“Aku kirim buat transport ya nanti” imbuhnya setelah menyebutkan jam dan lokasi perjumpaan. Aku iyakan meski tanpa embel-embel ongkos pun aku bersedia.
Jalan bersamanya adalah perbaikan gizi karena bisa dipastikan makan enak sebagai agenda utama hahahaha 🤭

Menjelang keberangkatan, dalam transum andalan tentunya, dia kembali mengirim pesan sudah sampai di lokasi dan mentransfer sejumlah rupiah yang dia janjikan. Tanpa ekspektasi, aku meluncur menuju titik temu. Iseng, kubuka internet banking dan ternganga melihat nominal yang dikirimkannya 😳

Jauh melebihi ekspektasi 🥲

Bukan kali pertama si people pleaser ini menjadi teman jalan, tapi jujur nggak kepikiran dibonusin transteran. Sejujurnya, tanpa iming-iming tunai pun menemani jalan-jalan adalah hal yang menyenangkan: makan-ngobrol-ngopi utamanya mengusir rasa sepi.
Karena, pada dasarnya manusia itu makhluk sosial.

Sayangnya, kebiasaan guyub memang pelan-pelan tergerus karena alasan klasik: waktunya nggak pas (baju kali pake ngepas 🥋 ) padahal mungkin emang bukan prioritas 😮‍💨

Fenomena ini mungkin yang kemudian bikin orang ngide menawarkan jasa teman jalan dengan tarif sebagai imbalan, di luar biaya jajan-jajan.

Tertarik pakai jasa teman jalan berbayar atau bahkan kamu yang mau buka layanan ini?


Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: