Pulang dari mengurus aplikasi di gerai layanan konsumen milik provider terbesar di ITC Depok rupanya bikin lapar juga. Mata dan kaki seperti kompak menggerakkan badan menuju sebuah kedai bakso dan mi ayam. Dalam keadaan lapar, memang lebih gampang khilaf memilih menu jajanan. Sekejap, mi ayam ceker dan semangkok tetelan kuah tersaji di meja.
Tapi, rupanya lambung nggak seluas samudera dan nyatanya ini hanya lapar mata. Semu. Saya hanya sanggup menggerogoti ceker berbumbu manis-gurih yang sedap. Setengah mi ayam nggak sanggup lagi masuk perut.
Tentu saja atas nama no food waste mi ayam dan tetelan kuah lezat ini pantang terbuang. Selain bikin masalah di TPA kelak (tau sendiri kalau pengelolaan limbah di kota ini masih jauh dari ideal), rasanya kok nggak menghargai tangan-tangan peracik di baliknya.
Pilihannya habiskan atau bawa pulang. Opsi terakhir adalah jawabannya. Meski pihak warung selalu sedia kantong-kantong plastik untuk wadah, ini bukan solusi. Plastik tipis kategori LDPE butuh ratusan tahun untuk bisa hancur dan bukan benda yang laris manis di pengepul untuk didaur ulang. Ini alasan saya selalu mengantongi alat makan lipat dalam tas.
Mungkin, persis seperti ibu kita dulu yang selalu membawa rantang untuk mewadahi makanan yang dibeli. Kebiasaan yang semestinya jadi hal wajar bukan untuk olok-olok karena inilah langkah kecil menyelamatkan bumi dari krisis iklim. 🌎
Duh, jauh amat ya mikirnya 🫣
Ngomong-ngomong 6 Januari ini adalah #refusesingleuse day yang artinya menolak penggunaan barang sekali pakai termasuk plastik. Bisalah jadi awal untuk lebih peduli dan dijadiin kebiasaan.
Bikin berat bawaan? Percayalah, lebih memberatkan lingkungan karena imbasnya sudah terasa 🥵
0 comments:
Post a Comment