Manicure + Pedicure
Salah satu layanan salon favorit saya. Dikenalkan oleh ibuknya moz5 Salon - Yulia Astuti - belasan atau bahkan lebih ya waktu salon muslimah ini mendobrak Depok. Saya suka manicure karena hasilnya keliatan banget, bisa “dipamerin”. Beda dengan haircut yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu 🤭Pertama kali manicure, hasilnya bikin shiyok 😱karena kuku mendadak shining shimmering-splendid ✨
Dan otomatis saya dicurigai make cat kuku 💅
Manicure dilakukan di hari Minggu, Seninnya, saya ada pertemuan dengan klien —sebuah sekolah berbasis agama Islam— di Jaksel. Bukan kebetulan, salah satu pengajarnya alumni kampus yang sama. Katinglah.
Melihat ujung jari saya berkilauan macam ditanami berlian, sontak si mbak kating memasang wajah tegang, lengannya menarik tangan saya lalu dengan suara agak marah “Eno, kamu pake kutek ya?!”
Persis seperti guru BK mergokin muridnya pake lipstik merah 🫦
Antara sebel dan bangga, tapi saya memilih bangga untuk ditunjukkan duluan. Dengan (sok) kalem saya bilang: “oh ini manicure bukan kutek. Hasil dari salon kemaren, bagus ya?!”
Padahal mah dalam hati dongkol bukan main. Apa urusa
nnya mbak kating kalo saya pake kutek? Sampai sekarang nggak habis pikir kenapa orang senang mencampuri hal-hal yang bukan krusial. Masih banyak yang harus dibenahin ketimbang ngeributin kuku kinclong, utamanya yang ada imbasnya ke sekitar.
Misalnya kalo saya ngobrol dengan volume sekeras toa masjid saat pembicara menyampaikan materi di seminar 🗣️
Manicure dilakukan di hari Minggu, Seninnya, saya ada pertemuan dengan klien —sebuah sekolah berbasis agama Islam— di Jaksel. Bukan kebetulan, salah satu pengajarnya alumni kampus yang sama. Katinglah.
Melihat ujung jari saya berkilauan macam ditanami berlian, sontak si mbak kating memasang wajah tegang, lengannya menarik tangan saya lalu dengan suara agak marah “Eno, kamu pake kutek ya?!”
Persis seperti guru BK mergokin muridnya pake lipstik merah 🫦
Antara sebel dan bangga, tapi saya memilih bangga untuk ditunjukkan duluan. Dengan (sok) kalem saya bilang: “oh ini manicure bukan kutek. Hasil dari salon kemaren, bagus ya?!”
Padahal mah dalam hati dongkol bukan main. Apa urusa
nnya mbak kating kalo saya pake kutek? Sampai sekarang nggak habis pikir kenapa orang senang mencampuri hal-hal yang bukan krusial. Masih banyak yang harus dibenahin ketimbang ngeributin kuku kinclong, utamanya yang ada imbasnya ke sekitar.
Misalnya kalo saya ngobrol dengan volume sekeras toa masjid saat pembicara menyampaikan materi di seminar 🗣️
0 comments:
Post a Comment