Akhir-akhir ini, hujan rata menutup Jakarta dan sekitarnya ☔️
Saya adalah penyuka hujan. Waktu SD, hujan berarti ke sekolah dengan gaya: pakai rain coat. Masuk SMP dan SMA, jas hujan berubah jadi jaket yang membungkus seragam. Seketika saya merasa keren 😎Kuliah dan kerja, tentu saya lebih bebas berekspresi pakai baju tebal macam musim dingin, ditambah sepatu boots untuk menghalau genangan. Beuh..
Seumur-umur, sepertinya baru sekali saya “marah” pada hujan. Waktu itu, lepas pandemi, ada acara buka puasa bareng teman kampus dengan lokasi yang udah ditentukan. Terjangkau pakai kereta, dan sudah menghitung lama perjalanan.
Tapi, kalkulasi manusia sah-sah aja meleset. Sudah rapi jali, tiba-tiba langit gelap dan airnya tumpah sampai nggak menyisakan ruang kering. Saya sebal, karena jadi susah ke stasiun (biasanya ojol jadi pilihan) sementara taksi juga sama aja: sulit didapat.
Di sinilah kepanikan muncul, karena ogah dicap ngaret tapi gimana 🤷🏻♀️
Meski akhirnya berhasil menembus deras dengan bantuan taksi daring (butuh waktu lama untuk menemukannya) dan sampai di tujuan dengan aman. Teman-teman paham, buka puasa dan silaturahmi berjalan lancar meski mood awal sempat berantakan.
Berhari-hari, saya kemudian sampai di perenungan: betapa egoisnya manusia memaksakan alam harus selaras maunya. “Gara-gara hujan jadi telat” padahal kesalahan ada di saya yang terlalu terlena pada kemudahan naik ojol di waktu mepet.
Lucu ya, dulu kita baik-baik saja ke mana-mana naik angkot bahkan jalan kaki. Ada payung dan atap mobil yang melindungi dari basah. Konsekuensi akibat waktu kedatangan yang acak adalah berangkat lebih awal.
Kita bisa melakukan antisipasi, dengan mengetahui siklus iklim. Meski, akhirnya sekarang amburadul juga (gara-gara manusia kan? 😣) sementara alam cuma menjalankan peran sesuai pemrograman yang diinstal penciptanya.
Dan, saya masih menyukai hujan setelah meminta maaf telah kesal waktu itu…
0 comments:
Post a Comment