Kebaikan dari orang asing…
Selesai keliling Kebun Raya Bogor, dalam perjalanan transit di stasiun untuk meredam dahaga saya mampir di sebuah kedai teh demi seporsi es teh kiamboy kesukaan. Rasanya yang campur: manis-asam-asin kayak permen tahun 90an selalu berhasil memikat saya untuk mampir dan bertransaksi.Sambil menunggu minuman diracik, saya duduk. Di sebelah, seorang remaja perempuan terlihat panik. Ia hendak membeli camilan gurih kesukaan kaum urban: makaroni berbumbu pedas. Penyebabnya tak lain baterai ponsel yang melemah sampai ke titik nol persen. Inilah kelemahan moda transaksi nirtunai. Begitu sinyal atau gawai mati, tak bisa apa-apa.
Dalam kepanikan, remaja itu memberanikan diri meminta tolong pada saya meminjam kabel charger. Sepertinya, dia melihat kesamaan ponsel yang kami pakai. Tanpa ragu, saya meminjamkan.
Berkali-kali dia minta maaf telah merepotkan dan membuat saya menunggu sampai ponselnya cukup untuk bisa hidup dan menuntaskan pembayaran. Nggak masalah, ujar saya tenang seraya menyesap es teh kiamboy yang sudah siap. Minggu pagi, apa yang diburu-biru?
Beberapa menit kemudian, remaja perempuan ini menyerahkan kabel charger pinjaman. “Terima kasih banyak ya” tak henti-henti ucapan ini dilontarkan. Kejutan! Bersama dengan charger, sebungkus makaroni Ngehe dia selipkan 🤩
Alhamdulillah 🤲🏼
Untuk camilan sedap buat teman nonton nanti di rumah 🤭
Bersyukur dan senang, di era abai ini masih ada anak muda yang nggak lupa tiga kata sakti: maaf (boleh pinjam charger?), tolong (baterai ponsel saya habis dan kasir tidak punya kabel yang sama), dan terima kasih (untuk pinjamannya).
Seringkali, hal-hal kecil ini yang bikin sudut bibir naik ke atas dan diam-diam mata agak basah di sudutnya 🥹
Saya percaya, seseorang membantu bukan karena dia kaya (secara material) tapi pernah ada di posisi itu.
Jalan pulang menuju Depok rasanya ringan dan wangi, meski kereta cukup sesak oleh kaum urban yang baru pulang olahraga pagi…
0 comments:
Post a Comment