Kebaikan Itu Perlu Dipamerkan

Indonesia itu bangsa yang senang menolong, as posted on this infographic



Sejak kasus Covid-19 merebak, dan gerakan #workfromhome #dirumahaja plus #socialdistancing (sekarang diganti jadi physical distancing) dipopulerkan  berhamburan banyak ide soal bantu-membantu ini. Yang paling populer tentu aja gerakan jajanin driver ojol. Skemanya sederhana: pesan makanan lewat aplikasi ojol, beli lebih atau justru semua-muanya buat driver. Mereka senang dijajanin (menghemat uang makan sekaligus tetep dapat poin) dan kita hepi sudah berbagi. 

Rame-rame kemudian memamerkan kebaikan ini di akun medsos. Kamu sudah?

Sesuatu yang luar biasa ya. Dulu, perbuatan baik semacam haram pantang dipamerin karena alasan riya bisa menghilangkan pahala. Idiom "lebih baik sedikit yang penting ikhlas daripada banyak tapi gak ikhlas" juga digaungkan di mana-mana. Nama "Hamba Allah" atau NN (apa sih singkatannya ini?) pun terkenal di daftar sumbangan masjid atau dompet peduli. 

Masih relevankan sekarang?

I don't think so. Pertama, siapa yang bisa menjamin keikhlasan seseorang selain Tuhannya? Kedua, siapa tau postingan kamu malah menginspirasi orang melakukan hal serupa. Faktanya, setelah ramai pamer jajanin ojol ini banyak banget yang ikutan kan? Ketiga, postingan berisi kebaikan yang kamu lakukan dalam kasus penggalangan donasi ini juga merupakan bentuk pertanggungjawaban yang bisa dilihat oleh publik dengan mudah. Bukan semata berupa laporan keuangan, tapi foto-foto kegiatan ketika bantuan disalurkan. 

Berbuat baik, gak perlu kelamaan mikir.

Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil