Kantin Blauran Yang (Seharusnya) Penuh Kehangatan

Pencapaian tahun ini: berhasil makan di Kantin Blauran Surabaya 🥳


Sudah lama saya mengenal kedai kecil di sudut jalan perempatan Cipete Raya ini. Sebelum Food Court kesayangan musnah terbakar (dan sampai sekarang gak tau mau jadi apa), ketika tampilan Kantin Blauran Surabaya masih sangat sederhana. 

Kedai hidangan Surabaya ini kini viral, entah karena ulah akun Dari Halte Ke Halte atau Chris si bule yang punya gaya khas setiap nge-review.

Lalu, kenapa baru mampir sekarang hah?

Jadi, sebagai warga pinggiran Jakarta memang saya hanya sesekali melipir ke ini tepatnya lebih sering di hari Minggu. Hari yang justru menjadi libur bagi kedai. Penghalang lainnya adalah waktu operasional yang sangat terbatas: Senin-Sabtu, 10 pagi sampai 4 sore. 

Sekalinya datang di jam buka, antri alias penuh adalah bukan saya banget hahaha 😅

Nah, Sabtu kemarin sudah saya niatkan mampir sekalian jalan bareng Teman Jalan Panjang (komunitas campuran yang digagas Igor Saykoji mengajak orang bergerak lewat jalan secara barengan lengkap pakai pacer). Dengan niat sepenuh hati, kelar jalan saya menumpang MRT turun di Cipete. 

Penuh percaya diri, tau-tau sampe depan kedai ada grup ibu-ibu berseragam (dresscode!) duduk di depan kedai. Ndilalah... nyampenya kecepetan. Saya tiba pukul 09.41 alias harus menunggu 19 menit lagi. Sempat bimbang apakah mending pulang tapi merasa sia-sia dong perjuangan ini. Akhirnya, dengan sedikit deg-degan dan sejumput kekhawatiran catcalling (ngerti kan?) saya menabahkan diri sambil mengamati sekitar.

Sempat tergiur combro panas di gerobak gorengan, tapi urung karena... penjualnya mengapit rokok ngebul di antara jemari. Yang menarik perhatian saya adalah motor dengan muatan makanan, sempat saya kira ini kurir yang mau antar bahan makanan ke Kedai Blauran. Ternyata, isinya nasi + beragam sayur dan lauk yang sudah dikemas dalam porsi kecil sekali makan. Memang jauh dari ramah lingkungan -- hiks -- tapi beginilah kreativitas warga +62 menyiasati kebutuhan hidup. Win-win solution cenah, para pekerja dapat makanan (asumsinya) benutrisi dan si mobile warteg punya penghasilan.

Jam sepuluh kurang sedikit, akhirnya pintu kedai dibuka. Persis kayak nunggu konser, kami (saya dan ibu-ibu ber-dresscode)  berjejalan masuk. 

Kantin Blauran, ini lebih mirip ruang makan keluarga. Hanya ada tiga meja: dua meja panjang besar dengan 6-8 kursi dan satu meja bundar pas buat 4 orang. Saya memilih meja panjang karena ini yang kosong. Pelayan yang ramah mempersilakan saya memilih menu sembari meminta maaf karena masih belum jam buka jadi banyak yang belum siap.


Menu yang disodorkan lebih cocok disebut nota, seperti kebanyakan di warung pecel lele dan street food. Tanpa harga terpampang, sedikit bikin deg-degan. Saya memilih Rujak Cingur, menu yang sangat Jatim (menurut saya) ketimbang sajian lain seperti rawon atau sop iga. Disandingkan dengan es jeruk, supaya nutrisinya nggak terbuang sia-sia hahaha. 

Good point: es jeruk datang tanpa sedotan sesuai permintaan 👌

Menit-menit sebelum Rujak Cingur pesanan saya datang, tiga bapak-bapak masuk. Pelayan meminta ijin agar saya bersedia berbagi meja, risiko duduk di meja panjang hahaha. Ya sudahlah, saya menunggu pesanan sambil mengunyah obrolan tentang konferensi iklim, meja yang terlalu semangat ditekan hingga miring, dan gong-nya adalah parfum beraroma tajam khas Arab (kalo kata orang-orang) menyiksa organ olfaktorius selama sekian puluh menit. Saya terpaksa melindungi hidung dengan masker dan mengoleskan peppermint oil agar tidak pusing.

Rujak Cingur yang bikin penasaran akhirnya datang. Jujur look-nya jelek hahaha bahkan ada yang mengira ini cumi hitam saking melimpah ruahnya bumbu. Tapi, soal rasa saya kasih 1000/100 karena enak banget! Meski kuahnya medok tapi kangkung rebus yang sembunyi di balik banjuran saus petis ini masih renyah kinyis-kinyis. Cingur yang sering ditakuti ini pun empuk, nggak bau. 


FYI, seporsi Rujak Cingur dibandrol 50ribu Rupiah saja dan ini menurut saya worth to buy karena porsinya gede banget. Si perut mungil (boong banget 👀) ini akhirnya memutuskan membawa pulang sisanya karena terlalu berharga untuk dibuang. 

Dalam pandangan saya, yang menarik dari Kantin Blauran ini adalah desain interior yang "memaksa" kita untuk berbagi meja dengan orang yang tidak dikenal. Bayangkan, jika pengunjung yang nggak saling kenal kemudian jadi guyub seperti makan bareng di rumah.

Selama kurang lebih dua jam duduk, saya sudah berbagi meja dengan tiga grup: bapak-bapak berparfum nyegrak, pasangan muda, dan satu keluarga berisi 3 orang. Tebak, ada nggak interaksi antar kami? Yak benar, jawabannya nyaris nggak ada. 

Konsep berbagi meja memang sepertinya belum familier buat warga Jakarta. Saya sempat mencoba berbaik hati menawarkan cutter untuk membuka kemasan kerupuk buat pasangan muda semeja, tapi kemudian ditampik prianya yang lebih memilih pakai gunting dari pemilik kedai. Ya sudahlah...

Nggak ada paksaan untuk berinteraksi dengan strangers, bukan semata budaya lu-gue tapi menjadi ramah di Jakarta memang rawan jadi korban kejahatan. 

Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

1 comments:

Ceritaeka said...

Aku nggak doyan rujak cingur, nggak kuat sama baunya hahaha. Anw, kalo berbagii meja gitu aku juga cenderung diem gak interaksi sih.. Somehow nggak nyaman kecuali orangnya rame menyenangkan ya hahaha