Waluh Kukus - The Very Sad Story

Ada satu cerita legenda di Twitter (sekarang X) tentang trauma yang disebabkan oleh makanan rakyat bernama waluh kukus. Buat yang nggak tau apa itu waluh, silakan cek di Wikipedia (tapi sekarang kontennya dibatasi huhuhu 😓

Dikisahkan, seorang pemilik akun bernama ainayed dan upayanya berkontribusi di acara buka puasa bersama dengan membawa takjil bagi peserta tadarus di masjid. Kemiskinan membuat mereka cuma mampu menyumbang waluh kukus, yang dinilai rendah ongkos produksinya. Maklum, sekadar membeli gula dan kelapa tambahan pun tak mampu. Singkat cerita, waluh upah kerja serabutan itu pun disulap jadi waluh kukus. 

Dengan berbinar, ainay membawanya ke masjid. Sayangnya waluh kukus dianggap panganan yang tak layak disajikan. Setidaknya, demikian yang ada di kepala Yati si tokoh antagonis ini. Dasar Yati niradab, tak cukup mengabaikan hinaan pun disemburkan.


Ainay anak berbakti yang tak mau menyakiti perasaan ibunya. Maka, demi menyenangkan hati waluh kukus yang masih penuh itu dia habiskan. Sendirian sampai tak tertahankan dan termuntahkan. Di depan sang ibu, Ainay masih berbohong dengan mengatakan bahwa waluhnya habis dimakan teman-temannya.

Cerita lengkapnya ada di sini 

IRL, tragedi waluh kukus benar-benar ada meski tak sama persis. Memenuhi janji gathering dengan potluck, sebut saja Fulana mengupayakan apa yang dipunyai. Bukan makanan mahal, harganya bahkan mungkin setara matcha seremonial grade A. Dibeli dengan menyisihkan uang yang sebetulnya dalam kondisi pemulihan finansial. Bukan buat gengsi, cuma ingin menunjukkan kontribusi.

Tentu saja, jajanan murah itu nyaris tak tersentuh. Bahkan sebagian ditawari buat dibawa kembali. 

Di luar sana, ada banyak Yati-Yati yang mengerdilkan upaya "orang kecil" untuk bisa hadir. Semoga kita tidak termasuk golongan para Yati itu... 


Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: