Menjembatani Dua Generasi

Jurang itu bernama antargenerasi.

Akuilah, jeda dekade yang terlalu lama memang menciptakan gap besar. Generasi yang lahir lebih dulu, seringkali jumawa dan enggan tersingkir lalu mengusung arogansi dan merasa eranya lebih baik.

Mereka yang terlahir di masa sesudahnya, pun tak kalah arogan. Melabeli generasi tua sebagai orang kolot, konservatif, jauh dari pemutakhiran, sampai...



Sejatinya, ini bukan gejala sehat bagi sebuah bangsa. Karenanya, agar jurang tak semakin lebar perlu ada yang membangun jembatan komunikasi dua generasi. Inilah yang salah satunya dilakukan lewat ngobrol-ngobrol santai pimpinan MPR dengan beberapa warganet.

MPR?

Yup, benar. MPR yang merupakan singkatan dari Majelis Permusyawaratan rakyat, lembaga negara yang identik dengan hal-hal terkait birokrasi, konservatif, dan kaku ini membuka diri untuk berdiskusi bersama para narablog.




Tidak lama, tapi cukup bermakna.

Susah dipungkiri, kebanyakan yang ada di lembaga pemerintah memang didominasi generasi analog. Tapi bukan berarti harus monolog kan?

Itulah sebabnya, MPR mulai membuka diri lewat kanal diskusi dengan wakil generasi langgas yang dianggap lebih progresif termasuk dalam penyerapan teknologi dan media sosial.Tak hanya di Jakarta, momen ini juga akan digelar di beberapa kota.

Kolaborasi ini, sedikit banyak memberi angin segar bernama harapan terhadap transparansi supaya publik bisa memantau suara yang mewakilinya.

 
Share on Google Plus

About e-no si nagacentil

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: